Kamis, 25 Februari 2010

Ibu kota bernama Jakarta

Jakarta.

Kota semerawut yang tiada batas antara pagi dan malam. Antara benar dan salah. Semuanya bermuara dalam satu semboyan,

“ Siapa yang kuat, Dia yang menang !! “

Entah mengapa, begitu banyak euforia muncul dari orang-orang desa yang buta akan ibu kota bila mendengar sebuah kata yang mencambuk semangat untuk mengadu nasib bernama ‘ Jakarta ‘.

Euforia macam apakah ini ?

Hanya sebuah khayalan super bertingkat tinggi atau untung-untungan demi meningkatnya strata sosial ?

Padahal mimpi-mimpi mereka akan dimulai dengan ujian perih mendera batin yang tiada akhirnya. Dan ini terjadi bukan ketika kalian menutup mata lalu tertidur lelap. Tapi terjadi ketika kalian sadar betul dengan peluh yang mengucur deras di setiap senti lipatan kulit.

Lelaki ini bernama Pram. Terkenal tangguh di setiap medan bahkan medan perang. Berkulit hitam legam dengan tubuh kekar berotot. Dia seorang kuli panggul.

Bola matanya besar dan alisnya saling bertaut. Gurat-gurat wajahnya menandakan bahwa dirinya sudah sangat profesional dalam dera dan siksa hidup di ibukota yang terkenal kejam ini.

Pekerjaan kasar sebagai kuli telah ia jalani selama hampir 2 tahun. Tapi belum ada keikhlasan sedikitpun untuk melakukan pekerjaan ini walau di dalam hatinya dia ingin sekali merasa ikhlas.

Pram belum rela meninggalkan mimpi-mimpi indah yang sering dia rancang sendiri dengan senyum simpulnya di setiap malam menjelang. Mimpinya sungguh hebat. Sangat amat hebat malah. Dia berangan, bermimpi, dan berharap menjadi seorang anggota parlemen. Duduk manis di dalam ruangan besar dan dengan mudah memerintah bawahannya.

Sebenarnya, tujuan utamanya menjadi anggota parlemen adalah untuk membela rakyatnya. Menjadikan rakyat satu-satunya tujuan utama dalam pencapaian cita-cita dari perjuangannya selama ini. Aktif dalam karang taruna dan bakti sosial di kampusnya dulu dia jadikan sebagai batu loncatan untuk menjadi seorang anggota parlemen yang mumpuni.

Tapi ternyata rancangan arah hidupnya selama ini harus berakhir disini. Di deretan truk pengantar barang, di tengah-tengah pasar induk yang seringkali becek jika hujan turun. Dia tak pernah berfikir sebelumnya bahwa dia akan merasakan hidup dalam pasar induk yang penuh dengan kriminalitas. Banyak orang-orang yang mengumpat kasar bahkan dengan terang-terangan menjadi pencopet dengan lihainya. Tapi inilah hidup yang harus dia jalani sekarang. Sempat merasa menyesal, mengapa dulu dia menolak mentah-mentah untuk meneruskan bengkel sepeda ayahnya di Purwokerto. Pram memang hanya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai dokter bagi sepeda-sepeda tua yang merepotkan pemiliknya. Dan ibunya, seorang yang sangat teramat penuh dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya.

Pram menyesal, mengapa dulu dia sombong dan merasa amat diremehkan ketika ayahnya memberinya amanat untuk meneruskan bengkel sepeda tersebut. Dia merasa angan-angannya tidak akan terpenuhi apabila dia menerima bengkel tua itu menjadi masa depannya.

“ Aku ingin ke Jakarta. Menjadi anggota parlemen. Menjadi wakil rakyat !! “, itu janji Pram kepada ibunya.

“ Baiklah. Pergilah ke Jakarta jika itu maunmu. Dan buktikan kepada ibu nak ! “, tantang ibunya.

Janji itu yang membuatnya menangis tiap malam di sudut rumah kontrakannya yang kecil.

“ Ya Allah. Apa yang akan dikatakan ibu bila beliau melihatku sekarang bekerja seperti ini. “ sesalnya.

Kepandaian Pram akan segala hal telah memberinya kesempatan mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas paling baik di Purwokerto. Tapi ternyata kepandaian yang dia bawa dari sana tak cukup memikat para penerima karyawan di sini. Pram mesti sedikit demi sedikit rela untuk hidup sesederhana mungkin. Demi terwujudnya cita-cita yang sedang ia yakini. Dan di pasar induk inilah dia memulai hidup sebagai pekerja kasar untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar mimpi-mimpinya yang hampir mustahil dapat dia genggam kembali. Paling tidak untuk meneruskan kuliah D3-nya dulu di Purwokerto hingga menjadi S1. Mungkin lebih baik dia berkonsentrasi penuh dalam mimpinya yang ini dulu. Menjadi sarjana. Sarjana Teknik yang handal. Dan jika beruntung dia masih bisa menjadi anggota parlemen walau cara paling mustahilpun masih belum bisa dia bayangkan.

“ Ada pendaftaran murid baru di Sekolah Tinggi itu !! “, tunjuk Surya. Surya adalah teman sekontrakan Pram. Dia juga seorang kuli panggul. Dan Suryalah yang pertama kali mengenalkan Pram pada pekerjaan ini. Surya mengerti seluruh angan dan asa yang ada pada diri Pram.

“ Ya, tapi aku ingin mendaftar di sebuah Universitas. Karena dasar yang ada dalam diriku teknik. Lebih baik aku mendaftar di Universitas. Dan satu lagi, bukan mu-rid tapi maha-siswa ! “, Pram nyeletuk.

Surya tersenyum, “ Oke. Oke. Maha-siswa bukan mu-rid ! “.

Bagaimana aku bisa masuk Universitas seperti mimpi-mimpiku ya Sur ? ”, tanya Pram.

Entahlah. Tapi kau hanya harus yakin. Bahwa selalu ada kesempatan untuk seorang pekerja keras !! “, Surya berapi-api.

Pram mengangguk setuju. Dan lebih membulatkan tekadnya untuk menggenggam mimpinya yang ini. Untuk saat ini mungkin hanya yang ini. Namun di dalam lubuk hatinya dia masih menyimpan mimpi besarnya di sudut kecil jiwanya.

“ Tapi uang darimana buat kuliah ? “.

“ Darimana saja Pram, Kau mesti yakin bisa dapet biaya kuliah secepat mungkin “, nasihat Surya.

“ Secepat mungkin itu bagaimana caranya ? “.

Surya menggeleng. “ Sepertinya mesti lebih dari kuli panggul “.

“ Ya, memang harus lebih dari seorang kuli panggul untuk bisa menjadi mahasiswa “, Pram mengangguk.

Mereka saling berpandangan dan mengerti pikiran satu sama lain. Banyak yang sudah mereka lakukan bersama dan seluruh kejadian itu membuat mereka semakin dekat lalu mengerti apa yang mereka inginkan. Hidup memang tak seindah yang mereka bayangkan. Tapi mereka juga tak membayangkan bisa sesulit ini.

Dari dulu sampai sekarang. Hanya angan-angan yang besar yang mereka punya. Pram dengan mimpinya menjadi wakil rakyat. Lalu Surya, mimpinya sangat sederhana. Bisa memberikan apa yang ibunya inginkan. Tapi diam-diam Surya mengagumi Pram. Dia sadar betul bahwa mimpi Pram, seorang pria dewasa dari Purwokerto benar-benar mustahil. Tapi Pram tak pernah menyerah. Semangat itu tak pernah padam hingga saat ini.

Dan kini semangat itu tertanam kuat di hati Surya. Surya yang akan meneruskan itu semua.

“ Lihat aku pram. Kamu pasti bisa lihat aku sekarang. Saat ini. Aku yang akanmeneruskan perjuanganmu dahulu Pram. Aku bisa dengan mudah keluar masuk DPR seperti keinginanmu dulu. Biarkan aku yang membela rakyat-rakyatmu Pram. Aku berjanji akan mumpuni. Setulus hatiku hingga titik darah penghabisan. Sepertimu !! “.

Surya kemudian beranjak dari sebuah nisan marmer berwarna merah.

Pram telah meniggal. Beberapa puluh tahun lalu. Ketika sedang berjuang untuk menggapai mimpinya.

Hanya tersisa Surya seorang. Dengan hati remuk redam dia mencoba membangun semangatnya sebesar semangat Pram dahulu. Dan mengobarkan tekadnya sebesar tekad Pram.

Dan meneruskan perjuangan Pram.

Hingga hari ini, dan seterusnya.

Sekarang Surya bukan lagi seorang kuli panggul. Tetapi seorang wakil rakyat yang di akui oleh setiap rakyatnya.

Bapak Surya Perkasa. “ Cita-citamu adalah tujuanku Pram !! “




short story by ; hesty

November '08

Tidak ada komentar: